Rabu, 16 Maret 2011

Kisah tidak terpopuler di sejarah kontemporer

Di suatu sore pada bulan desember tahun 1955 M, Rosa Parks, seorang wanita berkulit hitam yang bekerja sebagai buruh harian untuk memenuhi kebutuhannya. Ia telah bersiap-siap untuk pulang setelah seharian bekerja keras. Rosa melewati jalanan sambil menenteng tasnya, merasakan kehangatan semangat yang keluar dari dalam dirinya.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu menyebrangi jalan, untuk kemudian berdiri sesaat menunggu bus umum yang akan membawanya ke tempat tujuannya. Setelah sepuluh menit menunggu, Rosa melihat pemandangan memilukan yang akrab dengan zaman kala itu. Seorang laki-laki kulit hitam harus bangkit dari kursinya sambil mempersilakan tempat duduknya untuk ditempati orang kulit putih!
Perilaku ini tidak lahir dari Ruh persaudaraan atau sentuhan sejarah, tapi lahir dari undang-undang Amerika saat itu- yang melarang orang berkulit hitam duduk di atas kursi sedang tuannya si kulit putih berdiri di atas kaki.
Hal itu berlaku bagi siapapun, tak mengenal usia, meskipun yang duduk adalah wanita hitam tua renta, sedangkan yang berdiri adalah jejaka yang sedang di puncak kepemudaannya. Bila wanita tua berkulit hitam itu duduk dan pemuda berkulit putih itu berdiri, maka telah terjadi pelanggaran hokum dan si wanita tua itu harus siap membayar denda!!
Pada saat itu, anda akan akrab dengan papan yang digantung di pintu-pintu swalayan dan rumah makan, yang bertuliskan, “Dilarang masuk bagi Kucing,Anjing, dan Orang Hitam!”
Diskriminasi itu membuat sakit dan pilu nurani Rosa, sekaligus membuatnya geram dan marah.
Sampai kapan mereka harus dianggap lebih rendah dan lebih hina?
Kenapa mereka harus dihina dan dicela, selalu ada di barisan belakang, dan digabungkan dengan golongan hewan?
Saat bus kota berhenti,Rosa naik dengan dada bergejolak.
Rosa menoleh kanan kiri, mencari tempat duduk kosong. Ia segera merangsek menuju ke tempat duduk itu dengan mendekap tasnya. Ia duduk sambil menerawangi jalan yang dilewati oleh bus kota.
Saat tiba di halte berikutnya, ada seorang penumpang kulit putih yang naik. Kursi bus saat itu telah penuh terisi. Dengan tenang, ia melangkah menuju Rosa agar bisa mendapatkan tempat duduk. Namun alangkah terkejutnya ia, karena Rosa melihat padanya tanpa peduli, lalu kembali melihat jalan.
Laki-laki itu marah, dan seluruh penumpang kulit putih bersahut mencela Rosa, mengancamnya bila ia tak segera bangkit dan mempersilakan duduk si penumpang kulit putih.
Namun Rosa terus menolak dan memaksa tetap duduk. Saat sopir melihat pelanggaran hokum ini, ia langsung menuju kantor polisi untuk melaporkan perbuatan wanita berkulit hitam yang mengganggu tuan-tuan berkulit putih!!
Ya, pemeriksaan pun terjadi, dan Rosa harus membayar atas denda sebesar lima belas dolar sebagai ganti atas pelanggarannya terhadap hak orang lain (orang berkulit putih).
Dari sini, awan hitam mulai menaungi langit amerika. Orang-orang kulit hitam berdemo di seantero Amerika, memutuskan untuk memboikot sarana transfortasi dan meminta hak-hak mereka sebagai manusia-hak hidup dan hak pergaulan mulia.
Gejolak itu berlangsung selama 381 hari. Dan selama itu, amerika dilanda keributan.
Akhirnya mahkamah memutuskan untuk memenangkan perkara Rosa Parks, dan dihapuslah kebiasaan zalim tersebut maupun kebiasaan untuk undang-undang apartheid lainnya.
Pada tanggal 27 Oktober 2001, setelah 46 tahun dari peristiwa itu, dilakukan peringatan atas peristiwa tersebut. Direktur Museum Henry Ford di kota Dearbonem, Michigan, memutuskan membeli bus model lama tahun 40-an yang dikendarai Rosa Parks, saat mencela orang kulit putih hingga mendongkrak kesadaran hak asasi sipil Amerika, yang menyamakan hak-hak orang kulit putih hingga mendongkrak kesadaran hak asasi sipil di Amerika, yang menyamakan hak-hak orang kulit hitam dengan orang-orang kulit putih. Kendaraan itu dibeli dengan harga 496 dollar.
Setelah Rosa Parks berusia 80 Tahun, ia menuliskan pengalamannya dalam buku yang diterbitkan dengan judul Quiet Strength di tahun 1995 seraya berkata, “Di hari itu, aku teringat kakek-kakekku sdan bapak-bapakku. Lalu aku bersimpuh pada tuhan, hingga dia mengkaruniaiku kekuatan yang Dia berikan pada orang-orang yang lemah.”
Pada tanggal 24 Oktober 2005, ribuan orang berjubel untuk ikut mengiringi jenazah Rosa Parks, pioneer hak sipil Amerika yang meninggal pada usia sekitar 92 tahun.
Pada hari itu, jutaan manusia menangis, pemimpin-pemimpin  Negara berkumpul, dan bendera Amerika dikibarkan. Jasadnya disimpan di gedung kongres sejak wafatnya hingga sebelum dikubur. Ini merupakan sebuah penghormatan yang hanya diberikan pada pemimpin Negara dan orang-orang hebat.
Sejak tahun 1952 hanya ada tiga puluh orang, orang yang diperlakukan seperti itu, dan tak ada seorang wanita pun kecuali dia.
Ketika ia meninggal, di lehernya tergantung lencana terhebat. Lencana presiden untuk kebebasan pada tahun 1996 dan lencana emas kongres pada tahun 1999. Inilah penghormatan sipil tertinggi di Amerika.
Di atas semua lencana itu adalah lencana yang diberikan pada anak negeri yang berani mengatakan tidak. Orang yang paling terkenal berkata tidak di sejarah Amerika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar